
KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Bupati Kapuas HM Wiyatno menilai pembangunan infrastruktur menjadi pintu masuk untuk membuka potensi lahan pertanian di wilayahnya.
Jalan yang sebelumnya terbatas, kini mulai menghadirkan peluang baru bagi masyarakat untuk menggarap sawah dan kebun.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sesi tanya jawab bersama awak media pada forum “kopi bareng” di Cafe Jenggolo, Kuala Kapuas, Senin malam, (4/5).
Isu ketahanan pangan menjadi salah satu topik yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
Menurut Wiyatno, akses jalan berperan langsung terhadap minat masyarakat untuk bertani.
Ia mencontohkan pengalaman di Kabupaten Pulang Pisau. Sebelum adanya program food estate, kawasan itu relatif sepi peminat karena akses yang terbatas. Namun setelah jalan diaspal, aktivitas pertanian kembali tumbuh.
“Dulu orang malas bertani ke sana. Begitu jalannya bagus, yang bekerja di Palangkaraya kembali membuka lahan,” ujarnya. Ia optimistis pola serupa akan terjadi di Kapuas.
Dengan perbaikan infrastruktur yang terus berjalan, Wiyatno meyakini masyarakat akan terdorong mengembangkan lahan pertanian yang selama ini belum tergarap maksimal.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kapuas Usis I. Sangkai menyebut pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah kawasan sentra produksi pangan (KSPP), antara lain di Terusan, Kapuas Timur, Mantangai, dan Dadahup.
Menurut Usis, pembukaan akses jalan tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lahan pertanian.
Pemerintah daerah, kata dia, telah menetapkan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) guna melindungi sawah dari alih fungsi.
“Lahan yang sudah ada kita pertahankan. Kapuas ini bagian dari strategi Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan,” katanya.
Usis menambahkan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian berencana mendukung pembukaan sekitar 5.000 hektare lahan sawah baru, bersamaan dengan upaya mempertahankan lahan yang sudah produktif.
Dalam kesempatan itu, Wiyatno juga menyinggung penataan kawasan kota.
Ia mengaku telah menyurati pihak Telkom terkait kondisi lahan kantor yang dinilai terlihat banyak semak belukar.
“Halaman itu bisa dimanfaatkan, misalnya untuk kafe dengan Wi-Fi gratis,” tegasnya. Selain itu, pemerintah daerah berencana memindahkan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berada di sekitar lokasi tersebut.
Wiyatno berharap forum “kopi bareng” bersama awak media dapat digelar secara rutin sebagai ruang pertukaran informasi sekaligus penyaluran kritik.
“Kalau ada yang mau dikritisi silakan. Itu jadi koreksi bagi kami,” tandasnya. (*/dn)

