
KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Sebuah bundaran direncanakan berdiri di kawasan simpang lima Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Bagi pemerintah kecamatan, bangunan itu bukan sekadar penanda jalan atau penghias wajah wilayah. Ia diharapkan menjadi tanda bahwa pembangunan mulai bergerak lebih jauh dari pusat kota.
Camat Timpah Jonnie, S.T.,M.M. mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian dari PUPR mengenai bentuk, ukuran, titik pembangunan, hingga luas lahan yang kemungkinan terdampak.
“Kami mendukung proyek pembangunan bundaran Timpah. Tapi kami belum ada konfirmasi dari pihak PUPR, desainnya seperti apa dan lebar bundarannya,” kata Jonnie kepada wartawan melalui telepon, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, desain menjadi penting sebelum informasi disampaikan lebih jauh kepada masyarakat. Terutama karena pembangunan berpotensi menyentuh lahan milik warga. Jonnie tak ingin informasi yang belum pasti justru menimbulkan persoalan baru.
“Jangan-jangan nanti salah, misalnya tanah warga ada yang kena satu meter, nantinya ada yang kena dua atau tiga meter,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Jonnie, pemerintah kecamatan memilih menunggu gambar teknis dari PUPR. Setelah titik pembangunan dan kebutuhan lahannya jelas, pemerintah kecamatan dapat berkomunikasi dengan warga secara lebih terukur.
“Jadi kami menunggu desainnya dulu disampaikan, titiknya di mana, terus tanah warga yang kena berapa meter,” kata dia.
Jonnie mengatakan kepala desa di sekitar lokasi juga telah mengetahui rencana tersebut. Pemerintah desa dan masyarakat pada prinsipnya siap mendukung pembangunan.
“Pada prinsipnya desa-desa di sekitar pembangunan bundaran itu mendukung. Karena sudah kami sampaikan kepada masyarakat, mereka siap,” ujarnya.
Bagi Jonnie, arti bundaran itu lebih besar daripada sekadar perubahan bentuk sebuah persimpangan. Lokasinya berada di simpang lima yang menjadi salah satu titik pergerakan masyarakat dari dan menuju sejumlah daerah.
Ia membayangkan, ketika pembangunan itu selesai, orang yang memasuki wilayah Kapuas dari arah Buntok akan melihat sebuah penanda bahwa mereka telah tiba di wilayah Kapuas.
“Kalau orang dari Buntok masuk ke Kabupaten Kapuas, tidak merasa ini ujung Kabupaten Kapuas. Tapi Kapuas-nya kelihatan,” kata Jonnie.
Simpang lima Timpah juga memiliki posisi strategis. Jalur tersebut menghubungkan pergerakan masyarakat menuju Buntok, Muara Teweh, Banjarmasin hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Ini sebagai pemerataan pembangunan. Bukan hanya di kota Kapuas saja, tapi pemerataan sampai ke pelosok desa, sampai ke daerah nonpasang surut, supaya kelihatan pembangunannya,” pungkasnya. (dn)

