
NIM : 2530503010001
Mahasiswa RPL Ekonomi Pembangunan Universitas Palangka Raya
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman serius terhadap perekonomian, kesehatan masyarakat, dan stabilitas sosial. Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran, khususnya pada lahan gambut, mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari, menurunkan mobilitas, serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi pelaku usaha, terutama UMKM. Di Kota Palangka Raya, dampak tersebut sangat terasa karena banyak usaha kecil bergantung pada konsumen yang datang secara langsung.
Dampak ekonomi karhutla terlihat dari menurunnya omzet dan pendapatan UMKM, khususnya usaha makanan dan minuman. Kabut asap membuat masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, sehingga jumlah pembeli berkurang dan transaksi menurun. Kondisi ini juga menyebabkan sebagian pelaku usaha mengubah jam operasional, mengurangi produksi, bahkan menghentikan usaha sementara ketika kualitas udara memburuk.
Selain penurunan pembeli, UMKM juga menghadapi kesulitan dalam memperoleh bahan baku. Gangguan distribusi akibat kabut asap dapat menyebabkan kelangkaan barang dan kenaikan harga bahan baku. Akibatnya, pelaku usaha harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi, sementara pendapatan justru menurun. Kondisi ini semakin membebani UMKM yang umumnya memiliki modal terbatas dan ketergantungan tinggi terhadap aktivitas ekonomi harian.
Karhutla juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan struktur sosial. Paparan asap dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan membuat masyarakat memilih beraktivitas di dalam rumah. Penurunan aktivitas ini berdampak luas, mulai dari pedagang kaki lima, jasa transportasi, sektor pariwisata, hingga kegiatan sosial masyarakat. Dengan demikian, kerugian karhutla tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan.
Menurut saya, adaptasi pelaku UMKM sangat penting dalam menghadapi dampak karhutla. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menyesuaikan jam operasional, mengurangi jumlah produksi sesuai permintaan, mengendalikan biaya, menggunakan saluran distribusi alternatif, memanfaatkan promosi digital, serta mengembangkan layanan pesan antar. Strategi tersebut dapat membantu UMKM tetap beroperasi meskipun mobilitas masyarakat menurun.
Namun, adaptasi dari pelaku UMKM saja tidak cukup. Pemerintah perlu berperan aktif dalam pencegahan karhutla, pengendalian kebakaran lahan gambut, peningkatan kualitas udara, serta pemberian dukungan bagi usaha kecil yang terdampak. Penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu karena dampaknya bersifat lintas sektor, baik lingkungan, ekonomi, kesehatan, maupun sosial.
Karhutla merupakan bencana yang menimbulkan kerugian berlapis bagi masyarakat. Dampak paling nyata bagi UMKM adalah penurunan omzet, berkurangnya jumlah pelanggan, kenaikan harga bahan baku, serta gangguan operasional usaha. Oleh karena itu, pencegahan karhutla dan penguatan kapasitas UMKM perlu menjadi prioritas agar masyarakat tidak terus menanggung kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan.

