
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Universitas Palangka Raya (UPR) bersama WWF Kalimantan Tengah dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah menyusun Model Agroforestry untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis. Dokumen ini diharapkan menjadi panduan dalam mengelola kawasan hutan yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Model tersebut dirancang sebagai acuan memulihkan lahan kritis dengan tetap menjaga fungsi ekologis dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.
Dalam sistem agroforestry, tanaman kehutanan, tanaman pertanian, dan komoditas bernilai ekonomi diintegrasikan dalam satu pengelolaan. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan maupun nilai budaya masyarakat.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Agustan Saining, S.Hut, M.Si., mengatakan rehabilitasi hutan harus menjawab tantangan lingkungan sekaligus kebutuhan ekonomi masyarakat.
“Agroforestry merupakan solusi yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, hutan dapat dipulihkan, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan kelestarian lingkungan tetap terjaga,” ujar Agustan, Kamis (23/7/2026).
Menurut Agustan, keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan kritis tidak bisa dilakukan satu pihak. Sinergi menjadi kunci utama.
“Keberhasilan rehabilitasi tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat adalah fondasi utama untuk mewujudkan hutan Kalimantan Tengah yang lestari dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan adanya model ini, diharapkan upaya pemulihan hutan kritis di Kalteng dapat berjalan lebih terarah, memberi manfaat ekologis jangka panjang, dan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

