
KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Tuberkulosis atau TB bukan penyakit keturunan, kutukan, maupun akibat guna-guna. Penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini terutama menyerang paru-paru dan dapat menular melalui udara.
Hal itu disampaikan dokter spesialis paru RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, dr. Aina Nurlaina, Sp.P, saat memberikan edukasi kesehatan kepada pasien di Ruang Tunggu Poliklinik Paru Rawat Jalan, Kamis, 17 September 2026.
Kegiatan tersebut digelar Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) bersama staf Poliklinik Paru RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Edukasi berlangsung di Gedung Paviliun, Jalan Tambun Bungai Nomor 16, Kabupaten Kapuas.
Menurut Aina, penularan TB terjadi ketika penderita mengeluarkan percikan dahak ke udara saat batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut maupun menggunakan masker. Percikan tersebut dapat terhirup orang lain melalui saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.
Tidak semua orang yang terpapar bakteri TB langsung mengalami sakit. Daya tahan tubuh menjadi salah satu faktor yang menentukan. Jika sistem kekebalan tubuh mampu melawan bakteri, seseorang dapat tetap sehat.
Sebaliknya, ketika daya tahan tubuh melemah, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit TB.
Aina mengatakan gejala utama TB yang perlu diwaspadai adalah batuk terus-menerus selama lebih dari dua pekan, baik berdahak maupun tidak berdahak.
Gejala lain dapat berupa batuk bercampur darah, sesak napas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas, demam atau meriang berkepanjangan, serta penurunan berat badan.
Pasien yang telah dinyatakan menderita TB harus menjalani pengobatan setidaknya enam bulan. Selama proses tersebut, pasien didampingi Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk membantu memastikan obat diminum sesuai ketentuan.
Pemeriksaan dahak juga diperlukan untuk memantau perkembangan pengobatan, antara lain pada akhir tahap awal atau fase intensif setelah dua bulan, menjelang berakhirnya masa pengobatan, dan pada akhir pengobatan.
Aina mengingatkan pasien tidak menghentikan pengobatan secara sepihak meski kondisi tubuh mulai membaik. Pengobatan yang terputus dapat meningkatkan risiko munculnya kuman TB yang kebal terhadap obat.
“Apabila pengobatan terhenti sebelum waktunya, kuman TB di tubuh akan menjadi lebih kebal. Pada pengobatan selanjutnya diperlukan waktu lebih lama dan biaya lebih mahal karena menggunakan jenis obat yang berbeda,” ujar Aina.
Menurut dia, TB yang tidak ditangani hingga tuntas juga dapat terus menular kepada orang lain. Bahkan, TB yang kebal obat berpotensi ditularkan kepada orang lain.
Selama menjalani terapi, pasien juga perlu memperhatikan kemungkinan efek samping obat. Di antaranya mual dan muntah, sakit perut, diare, rasa perih atau panas di dada, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, ruam dan gatal, mengantuk, pusing, sensasi berputar, denging di telinga, serta mati rasa atau kesemutan pada kaki.
Selain pengobatan, Aina mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat untuk membantu mencegah TB. Langkah tersebut antara lain mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, tidak merokok, serta memastikan rumah memperoleh sirkulasi udara dan sinar matahari yang cukup.
Alas tidur juga dianjurkan dijemur secara berkala agar tidak lembap. Untuk anak, vaksinasi BCG sesuai program imunisasi diperlukan sebagai perlindungan terhadap bentuk TB berat.
Aina juga menekankan pentingnya etika batuk. Saat batuk atau bersin, masyarakat diminta menutup hidung dan mulut menggunakan lengan bagian dalam atau masker.
“Etika batuk penting untuk melindungi orang-orang di sekitar kita agar tidak tertular,” katanya. (dn)

