
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Sampah dapur yang kerap berakhir di tempat pembuangan ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik bernilai guna. Dengan metode Takakura, ibu rumah tangga di Kelurahan Langkai, Kota Palangka Raya, mendapat pelatihan mengolah sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan menjadi kompos untuk tanaman.
Kegiatan tersebut digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya (UPR) melalui program pengabdian bertajuk Penguatan Kesadaran Lingkungan Melalui Edukasi dan Pendampingan Pembuatan Pupuk Organik Metode Takakura bagi Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Langkai, beberapa waktu lalu.
Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Ir. Titin Apung Atikah, menyebut pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari skala terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengolah sampah rumah tangga menjadi langkah konkret untuk mengurangi volume sampah sekaligus menumbuhkan kepedulian lingkungan.
“Melalui pelatihan dan pendampingan, ibu rumah tangga diharapkan memiliki keterampilan untuk mengolah sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan yang sebelumnya hanya sampah menjadi pupuk organik dengan metode Takakura,” ujar Titin, Minggu (25/10/2026).
Metode Takakura dikenalkan sebagai solusi pengomposan rumahan yang praktis, mudah diterapkan, dan tidak membutuhkan peralatan rumit. Sampah organik yang telah dipilah dapat diolah kembali, sehingga jumlah sampah yang dibuang ke TPA berkurang dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah.
Manfaat kegiatan ini langsung dirasakan peserta. Salah satu ibu rumah tangga mengaku mendapatkan wawasan baru dari pelatihan tersebut.
“Kegiatan pelatihan ini sangat positif, banyak hal-hal baru yang didapat. Salah satunya, ternyata kami bisa membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga kami sendiri,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian yang diketuai Titin ini turut melibatkan Dr. Abdul Syahid, S.P, M.P, Sri Mujiarti Ulfah, S.Sos, M.AP, dan Meilianna Devita Christina,S.AN, M.AP.
LPPM UPR berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada pelatihan saja, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dan menjadi kebiasaan sehari-hari untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan lestari.

