
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah merilis perkembangan indikator ekonomi daerah periode September 2026. Salah satu indikator yang menunjukkan perkembangan positif yakni Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan yang mengalami kenaikan 1,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rilis tersebut disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, M. Taufiqurrahman, dalam kegiatan pemaparan indikator ekonomi yang berlangsung di Ruang Vicon BPS Kalteng, Kamis (1/10/2026), dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS, NTP gabungan Kalimantan Tengah pada September 2026 mencapai 141,05, meningkat dari 139,53 pada Agustus 2026 atau naik sebesar 1,09 persen.
Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib). It tercatat naik 1,84 persen menjadi 193,83, sedangkan Ib naik 0,76 persen menjadi 137,42.
NTP merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan atau daya beli petani di wilayah perdesaan. Pergerakan NTP juga menggambarkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun digunakan untuk biaya produksi.
Seluruh Subsektor Pertanian Mengalami Kenaikan BPS mencatat kenaikan NTP pada September 2026 terjadi di seluruh subsektor pertanian.
Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura, yang meningkat sebesar 2,63 persen. Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran, seperti cabai rawit, kacang panjang, dan terung.
Selanjutnya, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat 1,27 persen, yang dipengaruhi perkembangan harga komoditas karet serta kelapa sawit/CPO.
Subsektor peternakan juga mengalami kenaikan sebesar 0,38 persen, seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas unggas dan ternak kecil.
Sementara itu, subsektor tanaman pangan naik 0,23 persen. Perubahan ini antara lain berkaitan dengan kondisi pasokan gabah atau padi yang relatif terbatas karena hasil panen di sejumlah wilayah belum optimal.
Adapun subsektor perikanan meningkat 0,23 persen, dengan perikanan tangkap naik 0,27 persen dan perikanan budidaya naik 0,05 persen.
NTUP Ikut Menguat
Selain NTP, BPS juga mencatat kenaikan pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP).
Pada September 2026, NTUP Kalimantan Tengah mencapai 144,50, naik 1,18 persen dibandingkan Agustus 2026 yang berada pada level 142,82.
Kenaikan tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai tukar yang diterima rumah tangga usaha pertanian setelah memperhitungkan komponen biaya produksi dan penambahan barang modal.
Pengeluaran Rumah Tangga Petani Meningkat
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) perdesaan pada September 2026 mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen, menjadi 138,57.
Kenaikan IKRT terutama dipengaruhi oleh meningkatnya pengeluaran pada sejumlah kelompok. Kelompok transportasi tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,39 persen, disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,80 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,23 persen.
Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perubahan biaya konsumsi yang dihadapi rumah tangga petani di wilayah perdesaan Kalimantan Tengah.
Kalteng di Posisi Ketiga Pulau Kalimantan
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan, Kalimantan Tengah pada September 2026 berada di posisi ketiga untuk NTP maupun NTUP.
NTP Kalteng sebesar 141,05 dan NTUP sebesar 144,50 berada setelah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
BPS juga mencatat Kalimantan Tengah menjadi salah satu dari tiga provinsi di Pulau Kalimantan yang mengalami pertumbuhan NTP positif pada September 2026, bersama Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan indikator nilai tukar petani di Kalimantan Tengah pada September 2026, meski pada saat yang sama rumah tangga petani juga menghadapi kenaikan sejumlah komponen pengeluaran konsumsi.
BPS berharap perkembangan harga, pasokan komoditas, serta kondisi usaha pertanian dapat terus terjaga sehingga mendukung stabilitas perekonomian dan kesejahteraan masyarakat perdesaan di Kalimantan Tengah.

