
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Bagi sebagian orang, perjalanan panjang mungkin hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun bagi Kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Provinsi Kalimantan Tengah, perjalanan menuju Manokwari, Papua Barat, adalah kisah tentang pengorbanan, semangat kebersamaan, dan tekad untuk mengharumkan nama Bumi Tambun Bungai di pentas nasional.
Ribuan kilometer mereka tempuh, bukan dengan satu moda transportasi, melainkan kombinasi perjalanan darat, laut, dan udara yang menguras tenaga sekaligus menguji ketahanan fisik dan mental seluruh peserta.
Dibalik lantunan lagu pujian yang akan dibawakan di ajang Pesparawi Nasional XIV, tersimpan perjuangan panjang yang dimulai dari Kota Palangka Raya. Pada 16 Juni 2026, sekitar 90 orang yang terdiri dari peserta kategori Musik Gereja Nusantara (MGN), Paduan Suara Remaja/Pemuda (PSRP), serta official LPPD akan memulai perjalanan menuju Batu Licin, Kalimantan Selatan.
Perjalanan darat selama kurang lebih 12 jam menjadi etape pertama yang harus dilalui. Dari sana, mereka tidak langsung menuju Papua. Rombongan masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut menuju Makassar, Sulawesi Selatan.
Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Mimi, mengatakan seluruh skema keberangkatan telah dipersiapkan secara matang demi memastikan peserta dapat tiba dengan aman dan dalam kondisi prima.
“Rombongan direncanakan berangkat dari Palangka Raya menuju Batu Licin pada 16 Juni 2026. Selanjutnya, pada 17 Juni 2026 pukul 18.00 WITA, rombongan akan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut menuju Makassar,” ujarnya.
Lautan yang membentang antara Kalimantan dan Sulawesi akan menjadi saksi perjuangan mereka. Selama 24 hingga 26 jam perjalanan laut, para peserta harus menjaga stamina dan kekompakan. Diperkirakan, rombongan tiba di Makassar pada 19 Juni dini hari.

Belum selesai sampai di situ. Setelah beristirahat sejenak di Kota Daeng, perjalanan menuju ujung timur Indonesia masih menanti. Pada 21 Juni 2026 dini hari, mereka dijadwalkan terbang menuju Manokwari, Papua Barat, tempat seluruh harapan dan cita-cita itu akan dipertaruhkan melalui harmoni suara dan penampilan terbaik.
Bagi Mimi, perjalanan panjang tersebut bukan sekadar urusan transportasi. Ada nilai pengabdian dan kebanggaan yang menyertainya.
“Perjalanan ini bukan hanya membawa nama pribadi dan daerah asal, tetapi juga membawa nama baik Kalimantan Tengah. Karena itu, kami berharap seluruh anggota kontingen dapat menjaga kesehatan, kebersamaan, dan menunjukkan semangat pelayanan serta prestasi terbaik di Manokwari,” tegasnya.
Sementara itu Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kalteng, Walter Punding mengungkapkan, pemilihan jalur perjalanan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi transportasi sekaligus kesiapan fisik para peserta.
Menurutnya, sebagian besar peserta kategori MGN dan PSRP merupakan generasi muda yang memiliki daya tahan tubuh cukup baik untuk menjalani perjalanan panjang yang mengombinasikan moda darat, laut, dan udara.
Meski demikian, aspek kesehatan tetap menjadi perhatian utama. Sebelum keberangkatan, seluruh anggota kontingen telah menjalani pemeriksaan kesehatan guna memastikan mereka berada dalam kondisi prima saat menempuh perjalanan lintas pulau menuju Tanah Papua.
“Pemeriksaan kesehatan tersebut sangat penting untuk memastikan kondisi fisik seluruh anggota kontingen tetap prima. Selain menghadapi perjalanan yang cukup jauh menuju Manokwari, para peserta juga perlu beradaptasi dengan kondisi cuaca dan lingkungan setempat,” ujar Walter.
Tak hanya memastikan kondisi kesehatan, tim medis juga membekali para peserta dengan pesan-pesan sederhana yang sarat makna. Mulai dari menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, hingga memenuhi waktu istirahat yang cukup agar stamina tetap terjaga, baik selama perjalanan maupun saat tampil di arena perlombaan.
Di tengah panjangnya perjalanan yang akan dilalui, semangat para peserta diharapkan tetap menyala. Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni mempersembahkan penampilan terbaik dan membuktikan bahwa putra-putri Bumi Tambun Bungai mampu bersaing di tingkat nasional.
Kelak, ketika lantunan suara merdu itu menggema di Manokwari, mungkin tak banyak yang mengetahui betapa panjang perjalanan yang telah mereka tempuh. Namun, di balik setiap nada yang dinyanyikan, tersimpan cerita tentang tekad, persaudaraan, dan semangat yang tak mengenal batas. Sebuah kisah tentang anak-anak Kalimantan Tengah yang rela menembus ribuan kilometer demi satu kehormatan: mengukir prestasi dan mengharumkan nama daerah di pentas nasional.

