
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Lazimnya, talenta-talenta cemerlang di bidang teknologi informasi akan mengemasi koper mereka dan merantau ke kota-kota besar di Pulau Jawa, mengejar gemerlap industri digital. Namun, narasi itu tidak berlaku bagi Liyando Hermawan Hasibuan. Pemuda kelahiran Sampit tahun 1996, ini memilih jalan yang lebih sunyi namun bermakna: membumi di tanah kelahirannya dan merajut ekosistem digital Kalimantan dari balik layar komputernya.
Kini, dengan rekam jejak profesional yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade sejak tahun 2015, Liyando perlahan tumbuh menjadi arsitek perubahan di provinsinya. Kisahnya bukan sekadar tentang deretan algoritma, melainkan tentang dedikasi seorang anak daerah untuk memajukan kampung halamannya.
Bekerja Sebagai Bentuk Pelayanan
Jika Anda bertanya apa yang membuat Liyando mampu berlari lebih cepat dari usianya, jawabannya ada pada cara ia memandang sebuah pekerjaan. Ia tumbuh dengan sebuah keyakinan sederhana namun mendalam: tidak ada sesuatu yang tidak dapat dicapai jika diiringi dengan kerja keras. Baginya, ragam pekerjaan lepas yang pernah ia jalani adalah sekolah kehidupan yang mengajarkannya bagaimana memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain.
Di tengah dunia akademik dan teknologi yang kerap dipenuhi ego keilmuan, Liyando memilih merunduk. Ia lebih senang membuka ruang dialog, menyimak opini klien dengan berbagai permintaannya, ketimbang harus berdebat tegang demi mempertahankan teori-teori akademis. Tujuannya amat mulia, yakni semata-mata untuk terus memoles diri menjadi pribadi yang lebih baik. Kedisiplinan adalah harga mati baginya; ia memegang prinsip bahwa setiap pekerjaan wajib dituntaskan sebelum tenggat waktu berakhir, agar mereka yang menggunakan jasanya memiliki waktu yang leluasa untuk mengevaluasi hasil kerja tersebut.
Mengabdi di Ruang Kuliah dan Pemerintahan
Langkah Liyando bermula dari sebuah perguruan tinggi negeri di Kalimantan, di mana ia menyelesaikan studi sarjana di bidang teknik informatika pada tahun 2018. Dahaganya akan ilmu membawanya menyeberang ke ibu kota negara untuk meraih gelar magister di bidang ilmu komputer yang berhasil diselesaikannya pada 2022.
Alih-alih menetap di ibu kota, ia kembali untuk membangun pendidikan di daerahnya. Perjalanannya di dunia kampus dimulai dari bawah, yakni sebagai staf asisten laboratorium. Namun, dedikasinya yang tinggi perlahan mengangkatnya menduduki kursi-kursi strategis. Ia dipercaya memimpin sebuah program studi teknik komputer, dan tak lama kemudian, didapuk menjadi Dekan Fakultas Teknik di sebuah perguruan tinggi swasta di provinsinya. Keinginannya untuk terus berbagi ilmu juga ia wujudkan dengan menjadi tenaga pengajar resmi di perguruan tinggi negeri tempat ia dulu menimba ilmu.
Keahliannya menyusun logika pemrograman rupanya terdengar hingga ke gedung pemerintahan. Pengetahuannya yang mendalam membuat Liyando dipercaya menjadi tenaga ahli programmer dalam merancang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik untuk sebuah instansi pemerintah kota pada tahun 2024.
Tak Lupa Mengeja Kata di Luar Barisan Kode
Hal yang paling menarik dari sosok Liyando adalah kemampuannya menyeimbangkan logika mesin yang kaku dengan kelembutan bahasa manusia. Di balik layar monitornya, ia adalah seorang pencinta literasi. Ia tercatat sebagai anggota aktif di sebuah forum kepenulisan tingkat wilayah sejak tahun 2014, dan bahkan pernah menjajal kemampuannya dalam sebuah lomba menulis cerita pendek pada tahun 2013.
Kecintaannya pada dunia literasi dan informasi ini juga yang sempat membawanya berkarier sebagai staf IT di sebuah perusahaan media cetak daerah. Ia juga turut menjadi bagian dari sebuah serikat pengusaha media siber yang berfokus di regional Kalimantan.
Liyando menyadari bahwa teknologi tidak akan berkembang jika hanya disimpan sendiri. Karena itu, pada tahun 2020, ia bersama rekan-rekannya menginisiasi lahirnya sebuah komunitas IT nirlaba lokal. Komunitas ini ia rancang sebagai ruang aman bagi siapa saja—dari pemula hingga ahli, tanpa memandang batasan usia—untuk duduk bersama dan saling berbagi wawasan seputar dunia teknologi.
Kini, memasuki pertengahan dekade, Liyando tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Saat gelombang Kecerdasan Buatan (AI) melanda dunia, ia dengan sigap membekali diri melalui berbagai program pelatihan dari pemerintah pusat pada tahun 2026. Ia tekun mendalami rekayasa instruksi AI (prompt engineering), memahami fondasi keamanan kecerdasan buatan, hingga mempelajari cara membangun pertahanan digital bagi masyarakat dan UMKM.
Kisah Liyando adalah bukti nyata bahwa pengabdian yang tulus, dipadukan dengan kerja keras tanpa lelah, mampu menciptakan perubahan besar. Dari Bumi Tambun Bungai, ia terus merajut asa, memastikan bahwa Kalimantan tidak hanya menjadi penonton, melainkan turut menjadi pemeran utama dalam panggung masa depan digital Indonesia.

