
KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas mulai menyinkronkan data lapangan menjelang pelaksanaan program cetak sawah dan pembangunan irigasi pertanian Tahun 2026.
Langkah itu dilakukan agar pembukaan lahan baru selaras dengan kebutuhan sarana produksi dan kesiapan petani di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Edi Dese, mengatakan sinkronisasi diperlukan agar data lahan yang disiapkan pemerintah tidak berbeda dengan lokasi yang benar-benar dibuka di lapangan.
“Di setiap desa itu kami ada PPL-nya. Mereka yang akan bertugas menentukan mana yang dibuka dan mana yang sudah dibuka,” kata Edi kepada wartawan, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut Edi, hasil pendataan itu menjadi dasar pengajuan berbagai kebutuhan penunjang pertanian seperti benih, kapur pertanian, dan sarana produksi lainnya.
“Itu kan harus sinkron datanya. Supaya data pertanian yang sudah disiapkan di sini ternyata yang dibuka di lain,” ujarnya.
Dalam program tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang bertugas pada penyiapan konstruksi pembukaan lahan.
Adapun Dinas Pertanian berfokus pada pendampingan petani melalui penyuluh pertanian. Pengelolaan lahan nantinya dilakukan kelompok tani sesuai potensi wilayah dan mengacu pada Survey Investigasi Design atau SID yang telah disusun pemerintah.
“Luas akhir lahan yang digarap akan mengikuti realisasi pembukaan sawah oleh pihak pelaksana,” jelas Edi.
Lebih jauh, Edi menjelaskan pola tanam di Kapuas selama ini terbagi dalam dua jenis padi, yakni padi lokal dan padi unggul. Padi lokal umumnya ditanam pada April hingga September, sedangkan musim tanam Oktober sampai Maret diperuntukkan bagi padi unggul.
“Tujuan utama kita memang pengembangan padi unggul. Tapi kalau petani kesulitan, padi lokal tetap kita siapkan. Yang penting berkelanjutan dan bermanfaat,” ungkap Edi.
Sosialisasi program cetak sawah sebelumnya telah dilakukan di Kecamatan Bataguh, Kapuas Kuala, Tamban Catur, dan Kapuas Timur pada Februari lalu. Keempat wilayah itu dinilai sebagai sentra produksi padi Kabupaten Kapuas.
Ia optimistis penambahan baku lahan sawah di empat kecamatan tersebut dapat meningkatkan produksi padi Kabupaten Kapuas karena wilayahnya saling terhubung dalam satu hamparan pertanian.
Dinas Pertanian juga berharap dukungan pemerintah pusat, terutama dalam penyediaan sarana produksi dan alat mesin pertanian agar program strategis nasional swasembada pangan itu berjalan tepat waktu.
“Kendalanya biasanya sinkronisasi dan koordinasi. Misalnya kita tanam September, berarti benih dan sarana produksi juga harus sudah tersedia September, jangan datangnya Desember,” kata Edi.
Karena itu, koordinasi dengan Dinas PUPR terus dilakukan agar target pembukaan lahan hingga Agustus dapat segera diketahui. Dari data tersebut, Dinas Pertanian akan menghitung kebutuhan benih, kapur, dan sarana produksi lainnya sesuai luas lahan yang dibuka.
“Ini satu tim yang dibentuk pemerintah daerah. Jadi sinkronisasi lokasi yang sudah dibuka sangat penting supaya hasilnya maksimal,” pungkasnya. (*/dn)

