
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, lonjakan tajam harga cabai rawit mengguncang Pasar Besar Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam waktu kurang dari sepekan, harga komoditas pedas favorit masyarakat itu melesat dua kali lipat hingga menembus Rp120 ribu per kilogram.
Kenaikan mencolok ini terungkap saat tim gabungan melakukan inspeksi mendadak pemantauan harga bahan pokok di pasar tradisional terbesar di ibu kota provinsi tersebut, Kamis (5/2/2026).
Tim pemantau dipimpin Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yuas Elko, didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kalteng Norhani, perwakilan Bank Indonesia, Kanwil Perum Bulog Kalteng, serta sejumlah instansi terkait.
Norhani mengungkapkan, lonjakan harga cabai rawit terjadi sangat cepat dalam lima hari terakhir. Dari harga normal sekitar Rp50 ribu per kilogram, kini pedagang menjual di kisaran Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
“Kenaikannya sangat signifikan dibanding hasil pemantauan sebelumnya. Ini menjadi perhatian serius menjelang Ramadan karena cabai termasuk komoditas dengan permintaan tinggi,” ujarnya.
Meski cabai rawit melonjak tajam, kondisi berbeda terjadi pada sejumlah bahan pokok lainnya. Harga bawang merah justru mengalami penurunan dari Rp38 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras, daging ayam, hingga daging sapi masih relatif stabil. Daging sapi terpantau dijual sekitar Rp140 ribu per kilogram.
Tim gabungan memantau berbagai komoditas strategis yang masuk dalam daftar SP-2KP (Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok) dari pemerintah pusat. Komoditas tersebut meliputi beras, cabai rawit, aneka cabai, bawang merah, bawang putih, ikan, daging ayam, telur, daging sapi, tepung, hingga garam. Beras lokal produksi Kalimantan Tengah juga ikut menjadi fokus pemantauan.
Dari hasil peninjauan langsung di lapangan, ketersediaan stok bahan pokok secara umum masih dalam kondisi aman. Harga beras lokal pun disebut masih berada dalam kisaran standar dan belum menunjukkan gejolak berarti.
Pemerintah daerah memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara intensif guna mengantisipasi lonjakan harga ekstrem menjelang Ramadan, sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi.

