
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Menjelang Ramadan 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) bergerak cepat memastikan kondisi pangan tetap terkendali.
Hasilnya, stok bahan pokok dinyatakan aman, namun lonjakan harga cabai dan LPG 3 kilogram menjadi perhatian serius.
Kepastian itu disampaikan Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, usai memimpin pemantauan langsung ke lapangan, Kamis (5/2/2026).
Tim gabungan menyisir Pasar Besar, Pasar Kahayan, SPBU, pangkalan LPG, hingga gudang Bulog.
“Ketersediaan stok pangan di Kalteng aman untuk empat sampai enam bulan ke depan. Beras medium di pedagang besar juga cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Ramadan,” tegas Yuas.
Meski stok terkendali, dinamika harga di lapangan mulai terasa. Cabai rawit dan cabai merah kini menembus harga Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
Kenaikan ini dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi jika tidak segera dikendalikan.
Tak hanya cabai, harga LPG subsidi 3 kilogram di tingkat pengecer juga memicu keprihatinan.
Di wilayah kota, harga sudah berada di kisaran Rp35.000 sampai Rp38.000 per tabung. Sementara di daerah pedalaman, masyarakat harus merogoh kocek jauh lebih dalam, bahkan hingga Rp50.000–Rp60.000.
“Kami ingin ada kebijakan jelas dari kabupaten dan kota terkait standar harga LPG di pengecer, dihitung berdasarkan jarak distribusi. Jangan sampai terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali,” ujarnya.
Pemprov Kalteng melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pun bersiap mengambil langkah antisipatif. Salah satunya dengan menggelar pasar murah dan pasar penyeimbang guna menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat.
Yuas juga mengingatkan warga agar tidak melakukan panic buying yang justru bisa memperparah gejolak harga di pasaran.
“Belanjalah sesuai kebutuhan. Pemerintah terus melakukan pemantauan rutin bersama TPID, Forkopimda, BPS, Bank Indonesia, dan instansi terkait agar inflasi Kalteng tetap terkendali,” pungkasnya.

