
PALANGKARAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah, Indra Wiratama mengungkapkan bahwa Early Warning System (EWS) baru ada di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah.
“Alat early warning system itu saat ini baru ada di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, dan Katingan. Pengadaannya 2025,” kata Indra, Jumat (23/1/2026).
Indra menjelaskan, keterbatasan jumlah EWS di Kalimantan Tengah disebabkan oleh faktor anggaran.
EWS tidak hanya digunakan untuk mendeteksi potensi karhutla, tetapi juga untuk pemantauan banjir.
“Alat ini membaca tinggi muka air. Jadi bisa digunakan untuk peringatan banjir, bukan hanya karhutla,” ujarnya.
Selain itu, alat yang digunakan memang memiliki fungsi spesifik, sehingga tidak bisa mengukur seluruh parameter kebencanaan.
“Kalau untuk mengukur debit air, sensornya berbeda lagi dan biayanya cukup besar. Yang ada sekarang ini membaca tinggi muka air,” jelas Indra.
Indra menambahkan, setiap daerah memiliki ambang batas atau threshold yang berbeda dalam menentukan status waspada, siaga, hingga awas banjir, tergantung karakteristik wilayah masing-masing.
“Contohnya di Barito Selatan, threshold waspada, siaga, dan awas itu di angka 14 meter. Tapi angka itu tidak bisa diterapkan di Barito timur atau Katingan,” katanya.
Di Kabupaten Katingan, sambung indra, tinggi muka air 14 Meter sudah masuk kategori banjir besar, sementara di daerah lain angka tersebut bisa jadi masih pada level waspada.
Sementara untuk sensor karhutla, Indra menyebutkan bahwa standar lama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan batas rawan karhutla di bawah 40 sentimeter muka air tanah.
Namun, hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi tiap daerah tidak selalu sama.

