
KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mendorong penguatan budaya sadar bencana melalui sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) rawan bencana, Kamis, 23 April 2026, di Ruang Rapat Rumah Jabatan Bupati Kapuas.
Kegiatan yang diinisiasi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD/BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah itu menyasar pemangku kepentingan lintas sektor. Sosialisasi dibuka oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kapuas, Kusmiatie.
Sejumlah pejabat hadir, di antaranya Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD/BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Indra Wiratama, Kalaksa BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, serta peserta dari berbagai unsur.
Asisten II Setda Kapuas Kusmiatie menekankan pentingnya kesiapsiagaan yang dimulai dari lingkup paling kecil, yakni rumah tangga.
“Penanganan bencana itu tidak bisa menunggu. Dari rumah kita sendiri harus paham langkah awal, termasuk hal sederhana seperti penanganan kebocoran gas,” ujarnya.
Ia menilai edukasi kebencanaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat dan dunia usaha. Kesadaran kolektif, kata dia, menjadi kunci agar penanganan bencana berlangsung cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Sementara itu, Indra Wiratama mengatakan sosialisasi KIE merupakan bagian dari standar pelayanan minimal (SPM) kebencanaan sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 101 Tahun 2018.
“Sosialisasi dilakukan sebelum bencana terjadi, tujuannya untuk penyadartahuan seluruh pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media,” jelasnya.
Berdasarkan kajian risiko, Kalimantan Tengah memiliki 12 potensi bencana. Namun, enam di antaranya menjadi prioritas, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta cuaca ekstrem.
Di Kabupaten Kapuas, sebagian besar wilayah masuk kategori risiko tinggi, terutama terhadap cuaca ekstrem. Ia juga mengingatkan potensi kemarau panjang mulai Mei yang dipicu fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Kalaksa BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan menilai kegiatan ini sebagai bentuk sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten.
Ia mengingatkan pengalaman tahun sebelumnya ketika Kapuas menjadi wilayah dengan luasan kebakaran lahan terbesar di Kalimantan Tengah.
“Ini peringatan bagi kita semua. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar,” katanya.
Ia juga mengimbau warga mewaspadai masa peralihan musim yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga banjir. Petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca.
Sosialisasi ini diharapkan tak berhenti di ruang rapat, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan terkecil hingga tingkat komunitas. (*/dn)

