KUALA KAPUAS, KALTENGTERKINI.CO.ID – Yuniarti, 42 tahun, sudah duduk dihalaman Masjid Agung Al Mukarram Amanah di Jl. Tambun Bungai, Kelurahan Selat Tengah, Kecamatan Selat sejak selepas magrib, Minggu, 19 April 2026.
Ia datang bersama suami dan dua orang anaknya dari Desa Palinget Kecamatan Pulau Petak. Beralas tikar tipis, ia menunggu dengan sabar, sesekali menatap panggung yang masih lengang.
“Jarang-jarang ada acara seperti ini,” katanya pelan.
Malam itu, ribuan orang seperti Yuniarti berkumpul. Mereka datang dari berbagai penjuru Kabupaten Kapuas, ada yang berjalan kaki, ada pula yang menempuh perjalanan jauh demi satu tujuan, mengikuti Tablig Akbar Kapuas 2026.
Ketika acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, halaman masjid telah penuh. Di antara kerumunan, tampak anak-anak yang duduk bersisian dengan orang tua mereka, remaja yang sibuk mengabadikan suasana, hingga lansia yang tetap bertahan meski harus bersandar.
Di atas panggung, Bupati Kapuas HM Wiyatno didampingi Wakil Bupati Dodo dan para penjabat pemerintah Kabupaten Kapuas menyapa jemaah. Ia menyebut kehadiran Ustaz Kondang Das’ad Latif sebagai jawaban atas keinginan masyarakat yang selama ini hanya mengenalnya dari layar ponsel.
“Sekarang kita bisa bertemu langsung dengan Ustaz Kondang Das’ad Latif dalam rangkaian Hari Jadi Kota Kuala Kapuas ke 220 dan HUT Pemkab Kapuas ke 75,” kata Bupati Wiyatno saat memberikan sambutan.
Namun malam itu bukan hanya tentang siapa yang hadir di panggung, tapi tentang harapan yang dibawa masing-masing orang. Seorang remaja bernama Istiqomah 14 tahun, mengaku datang karena penasaran. Ia sering melihat potongan ceramah Das’ad Latif di media sosial.
“Mau dengar langsung,” katanya singkat.
Ketika ceramah dimulai, suasana perlahan berubah. Riuh percakapan mereda. Jemaah larut dalam pesan-pesan yang disampaikan tentang pentingnya menjaga iman, menjauhi larangan, dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Puncaknya terjadi saat sang ustaz mengajak jemaah menyalakan lampu telepon genggam. Dalam hitungan detik, ribuan cahaya kecil menyala serempak. Yuniarti dan anaknya ikut mengangkat ponselnya sambil melantunkan selawat.
Di sekelilingnya, orang-orang juga melantunkan selawat. Suara itu mengalun pelan, lalu menguat, menyatu dalam satu irama. Cahaya-cahaya itu memantul di wajah-wajah yang khusyuk seolah setiap orang membawa doa masing-masing.
“Merinding,” ujar Yuniarti, singkat.
Di tengah perbedaan latar belakang, suku, dan keyakinan yang hidup berdampingan di Kapuas, malam itu menghadirkan satu hal yang sama, yaitu rasa kebersamaan.
Bagi sebagian orang, tablig akbar ini mungkin hanya agenda peringatan hari jadi daerah. Namun bagi Yuniarti dan ribuan lainnya, ia adalah pengalaman batin tentang merasa dekat, dan diingatkan kembali pada hal-hal yang sering terlewat dalam keseharian.
Acara berlangsung hingga selesai. Satu per satu jemaah mulai beranjak pulang. Yuniarti menggandeng anaknya, lalu berjalan perlahan meninggalkan halaman masjid. Tablig akbar Kapuas 2026 sudah selesai. Tapi kesan malam itu, katanya, masih menyala. (*/dn)

