
PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2026, Poliklinik Paru RSUD dr. Doris Sylvanus (RSDDS) menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan sebagai bagian dari program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Kegiatan yang berlangsung di Instalasi Rawat Jalan sejak pukul 08.00 WIB ini menghadirkan dokter spesialis paru, dr. Jeannette Siagian, Sp.P, M.Kes, pada hari Kamis (26/3/2026).
Dalam pemaparannya, dr. Jeannette menjelaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyebar melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin. Selain menyerang paru-paru, TBC juga dapat mengenai organ lain seperti pleura, otak, tulang, usus, hingga mata.
Ia juga menekankan bahwa kelompok rentan terhadap TBC antara lain anak-anak, penderita HIV/AIDS, penderita diabetes melitus, lansia, perokok, serta individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.

Lebih lanjut dijelaskan, sekitar satu dari tiga orang di dunia mengalami infeksi TBC laten, di mana 5–10 persen di antaranya berpotensi berkembang menjadi TBC aktif. Pada kondisi TBC laten, penderita umumnya tidak menunjukkan gejala, hasil dahak negatif, dan rontgen normal, namun hasil uji tuberkulin atau IGRA menunjukkan positif. Oleh karena itu, pengobatan TBC laten sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti penderita HIV, kontak serumah pasien TBC, pasien hemodialisis, serta warga binaan pemasyarakatan.
Menurut dr. Jeannette, TBC dapat disembuhkan apabila pengobatan dijalani secara tepat, baik dari segi cara, dosis, maupun waktu. Ia pun mengingatkan pentingnya perilaku pencegahan dalam kehidupan sehari-hari, seperti minum obat secara teratur, menutup mulut saat batuk atau bersin menggunakan tisu, tidak membuang dahak sembarangan, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah.
Melalui kegiatan ini, RSDDS mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap bahaya TBC dengan mengenali gejala sejak dini, melakukan pencegahan, serta melindungi keluarga dari risiko penularan.

