Upayakan Hilirisasi Produk. Komoditas Sarang Walet, Nipah, Ubi Porang dan Udang Vaname Berpotensi Dorong Pertumbuhan Ekomomi

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Tahun 2021. (foto/ist)

PALANGKA RAYA, KALTENGTERKINI.CO.ID – Dalam upaya memperkuat fundamental ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kami melihat masih adanya potensi daerah yang dapat dikelola untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah yang kuat antara lain melalui:
Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Komoditas Ekspor Melalui Hilirisasi.

Pada umumnya, sebagian besar komoditas ekspor unggulan Kalteng merupakan komoditas bahan mentah yang dilakukan dengan teknologi sederhana atau tanpa proses pengolahan lebih lanjut, ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesi Provinsi Kalteng, Rihando dalam sambutannya pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Tahun 2021 di Ballroom SwissBell Hotel Danum Palangka Raya, Rabu (24/11/2021).

Lebih lanjut, Rihando mengatakan hal ini menyebabkan kurangnya nilai tambah yang dihasilkan oleh komoditas ekspor tersebut, sehingga kurang optimal dalam memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu, hilirisasi produk dapat secara bertahap didorong, yang tentunya dengan tetap mempertimbangkan berbagai faktor.

Selain itu, perlu kiranya dilakukan eksplorasi Komoditas lain yang memiliki potensi ekspor.

Melihat besarnya ketergantungan ekspor kita terhadap batu bara dan kelapa sawit, sudah saatnya kita mencoba mendorong potensi komoditas lain.

Adapun komoditas yang menurut kami berpotensi antara lain komoditas sarang walet, komoditas Nipah yang tersebar luas di muara sungai/pesisir laut Kalimantan Tengah, Komoditas Ubi Porang dan udang vaname yang saat ini tengah menjadi komoditas primadona yang didukung oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Optimalisasi pengolahan dan pemasaran terhadap komoditas tersebut diharapkan dapat dilakukan dari Kalimantan Tengah, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus dapat menambah kontribusi UMKM bagi ekonomi daerah, terang Rihando.

Disisi lain, kata dia, Konferensi Iklim COP26 di Glasgow pada 13 November 2021, menghasilkan kesepakatan antar negara untuk mengurangi emisi karbon melalui pengurangan penggunaan batubara secara bertahap.

Hal ini tentu menjadi tantangan yang akan kita hadapi ke depan, mengingat ekspor Kalimantan Tengah saat ini masih didominasi oleh batu bara.

Oleh karena itu, perlu kiranya kita perlahan mengurangi ketergantungan pada Batubara, dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam Kalimantan Tengah yang luar biasa, sebagai nilai tambah bagi sektor pariwisata Kalimantan Tengah.

Pemanfaatan tersebut dapat dilakukan melalui : Pembangunan kawasan agrowisata yang memanfaatkan potensi buah-buahan dan lahan perkebunan/pertanian yang kita miliki.

Program Strategis Nasional (PSN) Food Estate dan potensi buah-buahan lokal seperti Paken, variates unggul Durian Kasongan dapat dikelola menjadi agrowisata yang dapat mendorong pendapatan daerah dari sektor pariwisata.

Penyediaan Healing Forest yakni pemanfaatan hutan yang telah secara alami ada dan tersebar di seluruh penjuru Kalimantan Tengah untuk menjadi sarana relaksasi dengan media hutan.

Hal ini telah terbukti ilmiah dapat mengurangi stres dengan cara beristirahat di dalamnya dan meresapi semua yang dirasakan melalui semua indra. Pemanfaatan hutan ini dapat juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung aktivitas sehat seperti jogging track, cycle route, ataupun camp site.

Hal serupa telah banyak diterapkan di Jepang dengan nama “Shirin Yoku” atau di belahan dunia lainnya dengan nama “forest bathing”.

Forest bathing tidak perlu hutan dengan vegetasi tertentu, hanya memanfaatkan hutan yang ada dengan desain sedemikian rupa agar aman dari hewan buas yang berbahaya bagi manusia.

Di Korea, pariwisata semacam ini cukup laris dengan tiket masuk dijual dengan harga yang cukup terjangkau. (dan)

admin01